Benjang, Gulat Asli Sunda

Oleh: Cornelius Helmy

 

Jawa Barat boleh berbangga dengan pencak silat yang mendunia. Kesenian daerah ini dimainkan di banyak negara, termasuk Olimpiade sebagai cabang olahraga bela diri.

Namun, pencak silat bukanlah satu-satunya. Masih ada kesenian tradisional yang berevolusi menjadi olahraga bela diri, yaitu gulat Sunda atau kerap disebut benjang.

Ada banyak versi asal mula benjang. Ada yang menyebut benjang berasal dari kalangan pesantren di Jabar. Versi lain menceritakan, benjang berasal dari bahasa Belanda, band jong, atau sekelompok anak muda yang ramai memainkan kesenian.

Versi lain mengatakan, benjang lahir dari tradisi petani setelah panen. Mereka saling adu banting dan ketangkasan di atas jerami. Dahulu benjang sering dipertontonkan saat acara pernikahan, selamatan keluarga, atau 40 hari kelahiran bayi.

Benjang mirip sumo, gulat tradisional Jepang. Dalam tataran lokal, benjang juga mirip gedou di Aceh, marsurangut di Tapanuli, atol di Rembang, patol di Jawa Timur, bahempas di daerah Banjarmasin, dan sirroto di Bugis.

Beberapa paguron (perguruan) yang masih bertahan antara lain Pustaka Wargi di Ujungberung, Pustaka Wangi (Ujungberung), Rajawali Putih (Ujungberung), dan Libot Muda (Ujungberung). Untuk menguji kemampuan, satu rombongan benjang gulat biasanya beranggotakan minimal 15 orang yang terdiri dari 9 penabuh, 1 pemimpin, 4 pemain, dan 1 wasit.

Menurut Ike Gusmiati, pebenjang dari Paguron Panca Warna Putra, Ujungberung, sebagai bentuk kesenian, penyajian benjang tidak lepas dari tradisi. Ada pakem yang terus dijaga. Selama pertandingan, benjang harus diiringi alat musik Sunda, seperti terebang, terompet, gendang, bedug, kecrek, dan tambur. Pebenjang wajib melakukan gerakan pembuka, seperti menari (ibing) yang dibagi dalam tiga tahap, yaitu golempang (ajang perkenalan), puyuh ngungkuk (simbol mencari lawan), dan beurum panon (mengatakan siap bertarung).

Dahulu setelah melakukan gerakan ibing, pakaian hitam-hitam yang dikenakan harus dilepaskan dan menyisakan celana pendek. Itu menandakan pebenjang bersih atau tidak membawa senjata lainnya. Mereka juga menutupi kepala dengan sarung yang digunakan agar lawan tidak takut melihat penantang.

Jika sudah menemukan lawan, pebenjang bertarung di tanah keras. Namun, kini kebanyakan pebenjang menggunakan baju ketat, seperti pegulat, dan bertanding di atas matras.

“Dulu siapa pun bebas bertarung tanpa mempertimbangkan besar atau kecil tubuh. Maknanya, seseorang harus bisa mengukur kemampuan diri dan emosi secara mandiri dan kemampuan lawan yang dihadapi. Tapi, sekarang harus ditimbang terlebih dahulu,” katanya. Uji sportivitas

Menurut Eutik, mantan pebenjang Ujungberung, ketika dimainkan pertama kali, benjang memang ditujukan untuk menguji keberanian dan sportivitas. Istilahnya, daripada berkelahi di luar, lebih baik menguji kekuatan di arena pertandingan.

Namun, benjang pernah tercoreng saat pemerintah melarang tampil pada tahun 1970-1980. Alasannya, pementasan benjang selalu menimbulkan keributan fisik.

Benjang perlahan bangkit dan sangat ketat terhadap pelakunya. Ada banyak aturan sebelum bertanding. Sebelum turun ke arena pertandingan, pebenjang tidak diperbolehkan mencolok mata, menendang, dan menonjok.

Teknik yang dimainkan pun bermacam-macam, di antaranya nyentok hulu (mengentak), ngabeluit (membelit), engkel (gerakan mengunci ketiak), dan dengkekan (piting).

“Pembeda paling sederhana antara gulat dan benjang antara lain bila pebenjang sudah menjatuhkan lawan ke tanah, dia adalah pemenangnya” katanya.

Sebagai salah satu kesenian bela diri, benjang juga tidak ingin terhenti dalam bentuk tradisional. Sama seperti pencak silat, benjang juga ingin dikenal lebih luas.

Akan tetapi, benjang tidak setiap saat dilakukan. Akibatnya, benjang lebih dikenal sebagai tradisi, bukan olahraga prestasi.

Sejauh ini di tataran olahraga prestasi, benjang hanya menjadi pertandingan ekshibisi di beberapa pertandingan olahraga gulat. Padahal, menurut Karma, pebenjang asal Majalengka, potensi gulat ini tidak kalah besarnya. Sama seperti pencak silat, benjang di daerah juga telah menghasilkan prestasi tersendiri dengan tetap mengusung kekhasannya. Bahkan, namanya dikenal hingga ke Jepang. Tahun 2004 benjang pernah dijadikan studi banding penggiat olahraga sumo.

Wulandari, Sekretaris Paguron Benjang Libot di Kampung Ciwaru, Desa Cilengkrang, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, berharap suatu saat atlet benjang bisa seperti atlet gulat yang berlaga di kejuaraan nasional bahkan internasional.

5 Tanggapan ke “Benjang, Gulat Asli Sunda”

  1. budi Says:

    Benjang sebagai olahraga tradisional masih kalah dengan pencak silat wajar saja sebab gulat yang sebenarnya telah lama lahir di belahan dunia eropa zaman yunanri romawi kuno dulu sebagai permainan ketangkasan. Bahkan sebagai salah satu olahraga pada olimpiade oertama dulu. So.. gulat aslinya lebih kesohor duluan dibandingkan benjang karena telah menyebar sampai negara2 lain beberapa waktu tahun kemudian. Nah, pencak silat yang notabene olahraga/budaya asli indonesia telah disebarkan oleh para leluhurnya yang berada di luar negeri dan pernah menjadi olahraga eksibisi di olimpiade. Saya tidak tau kapan ini mulai disebarkan.. jadi seperti itulah kira2 menurut pandangan saya
    Btw, klo ada video ttg Benjang mohon bisa di-share disini..

  2. faulina Says:

    Saya reporter dari salah satu program anak di Trans7. Sy tertarik dengan artikel mengenai olahraga “benjang”. Bisakah saya minta nomor kontak pengurus perguruan “benjang”? Mohon info nya via e-mail saya di atas..

    Terimakasih.

  3. dicky Says:

    aku dari mahasiswa unpad mencoba mnegali tentang benjang.
    boleh minta nomor kontak nya ga? aku ada rencana buat film.

  4. lora Says:

    hai akku lora,,boleh minta no kontak benjang n perguruannya ga???aku mau buat feature ttg benjang n ini buat tugas,,mohon bgt ya,,,thanks

  5. lora Says:

    ni alamat email sayayang benar,,yang sebelumnya salah ketik,,ditunggu segera yap…


Tinggalkan Balasan