Pendidikan Jasmani: Tidak Menanam, Tidak Menuai
Update : 20-06-2007
Tahun 2005 bisa dikatakan sebagai tahun paling kelabu bagi olahraga Indonesia. Negeri berpenduduk terbanyak di Asia Tenggara ini untuk pertama kalinya dalam sejarah hanya berada di urutan kelima dalam daftar perolehan medali SEA Games.
Gagal sebagai juara umum SEA Games mungkin bisa diterima. Sebagaimana yang sudah-sudah, tuan rumah SEA Games memang selalu berusaha keras agar negeri mereka tampil sebagai juara umum.
Cabang-cabang yang memungkinkan tuan rumah memanen medali ”dipaksakan” untuk digelar. Indonesia juga melakukannya saat menjadi tuan rumah SEA Games 1997.
Demikian pula Filipina yang merupakan tuan rumah SEA Games 2005. Buktinya negeri bekas jajahan Spanyol ini menggelar cabang yang hanya dikuasai mereka, antara lain dansa dan bela diri arnis.
Akan tetapi, gagal menjadi juara umum seharusnya tidak lantas membuat Indonesia terpuruk di urutan kelima, di bawah Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Karena hal itu sungguh-sungguh terjadi, tentu sangat wajar jika 200 juta lebih penduduk Indonesia bertanya-tanya, apa yang salah dengan olahraga Indonesia?
Petinggi pengurus olahraga di Tanah Air kini sibuk menggelar pertemuan, seminar, rapat perencanaan, dan sebagainya, yang kata mereka, sebagai langkah awal memperbaiki olahraga Indonesia.
Rakyat jelata hanya bisa berharap semoga semua kesibukan tersebut tidak berujung pada kesimpulan konyol bahwa olahraga Indonesia terpuruk karena lawan lebih siap. Konyol karena bukankah tugas para petinggi itu membuat olahraga Indonesia siap?
Hasil memalukan pada SEA Games 2005 jelas merupakan muara dari berbagai ketidakberesan yang telah berlangsung begitu lama dalam dunia olahraga di Indonesia. Satu di antaranya adalah lemahnya pendidikan jasmani di tingkat SD dan SMP.
Walau pendidikan jasmani di sekolah bukanlah bertujuan menelurkan olahragawan prestasi, di lembaga itulah dibentuk dasar olahraga, yaitu pengajaran keterampilan gerak yang benar, motivasi berolahraga yang tinggi, dan identifikasi bakat sedini mungkin.
Dibandingkan dengan, katakanlah, isu minimnya atlet Indonesia yang berlatih ke luar negeri, isu lemahnya pendidikan jasmani mungkin terkesan kurang seksi, kurang gagah.
Apa lagi sih yang harus dilakukan dengan pendidikan jasmani di SD atau di SMP? Bukankah lebih penting meningkatkan kemampuan bahasa Inggris siswa ketimbang mengurusi pendidikan jasmani?
Mantan Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Jakarta Taufik Yudi menganalogikan pentingnya pendidikan jasmani dengan perkembangan bayi. ”Tidak ada balita yang langsung memiliki kecerdasan cukup tinggi sehingga ia bisa bicara tanpa melalui tahap belajar tengkurap, merangkak, berdiri, dan berjalan lebih dahulu,” ujar Taufik.
Dalam kata lain, kemampuan gerak merupakan dasar bagi bentuk kecerdasan kognitif dan emosi. Hal ini sudah disadari sangat lama oleh umat manusia, yang dibuktikan dengan adanya kutipan bahasa Latin yang begitu terkenal: ”Mens sana in corpore sano”, ’dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa atau pikiran yang sehat’.
Sayang, Indonesia tampaknya mengabaikan arti penting pendidikan jasmani. Hal ini, menurut Yudi, bisa dilihat dari cara pendidikan jasmani digelar di Tanah Air.
”Ada guru yang tidak punya latar belakang pendidikan ilmu jasmani tiba-tiba saja memberikan pelajaran itu di sekolah,” ujar Taufik, yang sekarang menjadi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta.
Taufik juga menyebut sering terjadi salah pemahaman mengenai pendidikan jasmani di sekolah. Pendidikan jasmani di sekolah dasar seharusnya hanya mengenalkan gerakan dasar, seperti berlari, berjalan, melompat, dan melempar. Namun, banyak sekolah yang sudah mengajak siswa melakukan permainan dalam memberikan pendidikan jasmani.
Kondisi memprihatinkan pendidikan jasmani dapat dilihat dari apa yang terjadi di sekolah di Bandung.
Di Sekolah Dasar Negeri Cibeunying IV, Kabupaten Bandung, siswanya harus berbagi tempat dengan teman-teman mereka dari SDN Cibeunying II dan Cibeunying III. Seorang guru SD Cibeunying IV, Yuni Haryani, juga harus bekerja secara borongan. Pengajar siswa kelas 1 ini memberikan pelajaran Matematika, Membaca, hingga Olahraga.
Hal serupa dialami rekannya, Nanik Sugiarti, yang mengajar kelas II SD Cibeunying III. ”Di sini tidak ada yang khusus mengajar Olahraga. Semua diajar oleh guru kelas masing-masing,” tutur Yuni.
Tak adanya guru khusus pendidikan jasmani juga dirasakan Nurhayati Pangaribuan, Kepala Sekolah SD Negeri 060888 Medan. Ada 15 guru berstatus pegawai negeri sipil, termasuk dirinya, di sekolah ini. Dua guru lagi adalah tenaga honorer.
”Yang tidak ada ya guru Olahraga. Sudah lama sekolah ini tidak memiliki guru Olahraga. Jadi mata pelajaran itu diasuh guru kelas masing-masing. Untuk kelas IV sampai VI, kami menyediakan guru tersendiri. Dia bukan guru Olahraga, tetapi guru Agama. Sekolah ini sudah berdiri sejak tahun 1960-an, tetapi sejak saya jadi kepala sekolah beberapa tahun yang lalu, sekolah ini tidak punya guru Olahraga,” kata Nurhayati.
Nanik Sugiarti, guru kelas II SD Cibeunying III, menjelaskan, setiap minggu tiap kelas diberikan pelajaran Olahraga dua jam pelajaran atau setara dengan 60 menit. Jumlah jam ini dirasakan sangat minim.
Persoalan rasio antara guru dan murid serta minimnya jumlah jam pelajaran juga dirasakan sekolah di Surabaya. Pendidikan jasmani hanya diajarkan dalam satu pertemuan seminggu, biasanya 70-80 menit untuk SD. Sementara di SMP serta SMA 90 menit.
Waktu tersebut tentu akan tersita untuk ganti pakaian (kira-kira lima menit), pemanasan (10-15 menit), dan pendinginan (kira-kira 10-15 menit). Praktis pendidikan jasmani hanya berlangsung 35 menit sampai satu jam per minggu.
Ini belum membahas kualitas pengajaran yang bisa diberikan dalam waktu selama itu. Bandingkan dengan pelajaran akademik lain yang bisa 180 menit seminggu.
Akhirnya, pendidikan olahraga terkesan sebagai ajang pemantauan kebugaran siswa. ”Tak bisa diperpanjang karena waktunya tidak ada,” ujar guru SMAN 16 Surabaya, Yoyok Subagyo, yang juga merupakan wasit nasional voli lulusan Sekolah Guru Olahraga di Surabaya era 1970-an.
Selain praktik, biasanya dalam satu semester di SMAN 16 Surabaya disisipkan dua kali pelajaran teori, misalnya, pengenalan sistem dan tata cara pertandingan. Artinya, pelajaran teori hanya sebanyak dua kali dari sekitar 16-22 kali pertemuan dalam satu semester.
Dengan hanya maksimal dua jam per minggu, jelas tidak banyak siswa yang mampu menguasai secara benar gerakan dasar olahraga, seperti lari, lompat, dan lempar. Ketika akhirnya sang anak berniat memperdalam kemampuan olahraganya dengan bergabung pada sebuah klub, pelatih klub pun harus mulai dari memperbaiki gerakan dasar tadi.
”Contohnya untuk melompat. Hanya sebagian kecil atlet baru di klub yang menguasai cara melompat dengan benar. Padahal untuk menjadi atlet bola voli, kemampuan melompat yang baik itu salah satu syarat penting,” ujar pembina klub voli Tectona Bandung Dadi Saridji.
Dari sisi kondisi fisik, harus diakui postur para calon atlet saat ini lebih baik dibandingkan dengan 10-20 tahun lalu. Kesadaran orangtua akan pentingnya gizi dan pola hidup sehat menjadikan mereka relatif memiliki postur fisik yang lebih baik sehingga tak seharusnya kita kekurangan bibit atlet berbakat.
”Kelihatannya porsi pengajaran olahraga dasar di sekolah memang berkurang. Lebih banyak waktu dialokasikan untuk memahami olahraga permainan. Sebaiknya porsinya dibalik karena anak yang menguasai gerakan dasar dengan baik biasanya lebih mudah untuk dilatih dan berprestasi,” ujar Dadi.
Pilihan pengajaran olahraga pun banyak terkendala fasilitas di sekolah. “Semua harus sadar bahwa tanpa fasilitas yang memadai, pendidikan olahraga tidak akan memenuhi harapan. Seperti kami, mengajak anak-anak berenang pun tidak bisa setiap minggu karena terkait biaya,” tutur Kepala Sekolah SDN Tenggilis Mejoyo 1 Surabaya, Tatin.
SD yang diasuh Nurhayati Pangaribuan di Medan juga menemui kendala sarana fisik. Sekolah ini memiliki halaman sekolah yang luasnya hanya 20 meter persegi.
Tiga komponen utama mata pelajaran Olahraga yang selalu diajarkan sejak SD, yakni atletik, senam, dan olah raga permainan, juga tak lagi bisa ditemui pada banyak SD di Medan. Bagaimana mau belajar atletik jika tak punya tanah lapang? Bagaimana mau mengajar senam jika sekolah tak punya matras?
Lain lagi cerita Sutrisno, guru Olahraga yang juga Wakil Kepala Sekolah SMU Negeri 1 Medan. Sekolah itu punya lapangan basket yang bisa jadi lapangan futsal. Namun, jangan harap siswa sekolah itu bisa belajar dua komponen dasar mata pelajaran olahraga, atletik dan senam.
Sutrisno kesulitan jika harus mengajar atletik karena tak ada lapangan yang layak. Senam lantai memang diajarkan, tetapi tak ada matras sebagai perlengkapannya. Saat harus memberi pelajaran tentang senam lantai, Sutrisno terpaksa memakai sedikit tanah lapang yang ditumbuhi rumput di sudut sekolah.
Melihat kondisi pelaksanaan pendidikan jasmani yang begitu menyedihkan di sekolah rasanya menjadi terlalu berlebihan kalau kita berharap menjadi bangsa yang besar di bidang olahraga. Pendidikan jasmani tak ubahnya benih dan kita tidak akan pernah menuai apa pun kalau kita tidak pernah menanamnya.
Sumber : www.kompas.co.id
























