Ekskul Picu Siswa Berprestasi

Monday, 03 December 2007

Kegiatan ekstra kurikuler (ekskul) merupakan suatu kegiatan siswa di luar kegiatan belajar mengajar di sekolah yang sangat potensial untuk menciptakan siswa-siswa yang kreatif, berinovasi, trampil, dan berprestasi. Kegiatan ekstra kurikuler ini sangat signifikan, karena banyak anak-anak yang pintar merupakan anak-anak yang pandai membagi waktu dengan banyak aktivitas yang dilakukannya sehingga membuatnya menjadi anak yang cerdas.

Hal ini dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan Ir. H. Hasan Basri, MM. Menurut Kadis Pendidikan, berdasarkan penelitian yang pernah dibuatnya di kota Medan oleh pihak Kadis Pendidikan ditemukan sebuah bukti korelasi tingkat prestasi anak, dengan mereka melakukan kegiatan ekskul merupakan anak yang pandai bagi waktu, karena tidak terpokus pada suatu kegiatan, seperti selain mengikuti kegiatan belajar mengajar mereka juga bisa membagi waktu dengan mengikuti bimbingan belajar, mengikuti ekskul pramuka, PMR, olahraga dan sebagainya.

“Justru anak-anak yang banyak aktivitas ini membuat mereka menjadi cerdas, pintar dan pandai membagi waktu,” ujar Kadis Pendidikan.

Ekskul akan membawa pengaruh signifikan terhadap pembelajaran anak, kalau anak bergairah belajar di sekolah, otomatis mereka akan memilih ekskul olahraga di sekolah, siswa akan mempunyai fisik sehat dan enjoy di sekolah dan termotivasi dalam mengikuti semua kegiatan belajar mengajar.

Sumber: Waspada Online

Tips and Trik

Anda termasuk Pengguna Blog?Dan ingin blog anda dikenal orang?

Juga pengen blog anda nongkrong di Google?

anda tinggal klik aja link ini :

http://www.google.co.uk/addurl/?continue=/addurl

Petujuk udah ada di sana ko!!!!!!!!!

LATIHAN KONDISI FISIK

Kebugaran Jasmani

Olahraga prestasi dalam kontek latihannya selalu dikaitkan dengan latihan kondisi fisik, yang pada dasarnya selalu berusaha untuk meningkatkan prestasi, mempertahankan prestasi, dan mempertahankan prestasi.

Secara umum dasar gerak manusia di bagi dalam empat macam kebutuhan kondisi fisik yaitu: Kelentukan/fleksibility, kecepatan, kekuatan, dan daya tahan. gerakan fisik lainnya yang mendukung atau gabungan dari komponen dasar tadi seperti kekuatan yang cepat yaitu (gabungan antara kekuatan dan kecepatan), Stamina yaitu (gabungan antara daya tahan dan kecepatan), dan daya tahan kekuatan yaitu (gabungan antara kekuatan dan daya tahan).

Bentuk latihan fisik

Pada dasarnya bentuk latihan fisik bias dibedakan atas: latihan fisik umum dan latihan fisik khusus.Latihan kondisi fisik yang umum terdiri dari latihan dasar yang banyak ragamnya, artinya pembanguna sisi yang serasi antara dan seimbang dengan sistim kardiopulmunoral/jantung dengan peredaran darah dengan kekuatan otot.Sedangkan latihan fisik yang khusus, dilakukan atas dasar latihan umum yang luas pada kekhususan cabang olahraga (yang menentukan prestasi), misalnya latihan daya tahan aerob dan daya tahan anaerob untuk pegulat.

1. Latihan Daya Tahan (Aerobik dan Anaerobik)
Kemampuan daya tahan dan stamina dapat dikembangkan melalui kegiatan lari dan gerakan-gerakan lain yang memiliki nilai aerobik. Biasakan pemain menyenangi latihan lari selama 40-60 menit dengan kecepatan yang bervariasi. Tujuan latihan ini adalah meningkatkan kemampuan daya tahan aerobik dan daya tahan otot. Artinya, pemain dipacu untuk berlari dan bergerak dalam waktu lama dan tidak mengalami kelelahan yang berarti.Selanjutnya proses latihan lari ini ditingkatkan kualitas frekuensi, intensitas, dan kecepatan, yang akan berpengaruh terjadinya proses anaerobik (stamina)pemain. Artinya, pemain itu mampu bergerak cepat dalam tempo lama dengan gerakan yang tetap konsisten dan harmonis.

2. Latihan Kekuatan
Pemain bulutangkis sangat membutuhkan aspek kekuatan. Berdasarkan analisis dan cukup dominan pemain melakukan gerakan-gerakan seperti meloncat ke depan, ke belakang, ke samping, memukul sambil loncat, melakukan langkah lebar dengan tiba-tiba. Semua gerak ini membutuhkan kekuatan otot dengan kualitas gerak yang efisien.
Cara terbaik untuk meningkatkan kemampuan kekuatan ini adalah berlatih menggunakan beban atau dengan kata lain latihan beban (weight training). Sebaiknya sebelum melakukan program latihan beban sesungguhnya, disarankan agar pemain lebih dulu mengenal berbagai bentuk gerakan seperti:
- mendorong (push up, pull up)
- bangun tidur, angkat kaki
- memperkuat otot punggung, pinggang
- jongkok berdiri untuk membina kekuatan tungkai – loncat-loncat di tempat atau sambil bergerak.
Proses selanjutnya adalah meningkatkan kualitas geraknya dengan menggunakan beban (weight training) yang sebenarnya. Dianjurkan untuk tidak melakukan atau berlatih loncat di tempat yang keras karena akan berdampak terjadinya sakit, cedera pada bagian lutut, dan pinggang.

3. Latihan Kecepatan
Cara untuk bergerak cepat adalah melatih kecepatan tungkai/kaki. Aspek kecepatan juga bermakna pemain harus cekatan dalam mengubah arah gerak dengan tiba-tiba, tanpa kehilangan momen keseimbangan tubuh (agilitas). Bentuk-bentuk latihannya antara lain:
a. Lari cepat dalam jarak dekat
b .Lari bolak-balik, jarak enam meter (shuttle run)
c. Tingkatkan kualitas latihan dengan menggunakan beban, rintangan, dan lain-lain.
d. Jongkok-berdiri dan diikuti lari cepat dalam jarak dekat pula.

4. Latihan Kelenturan/Fleksibilitas
Fleksibilitas adalah komponen kesegaran jasmani yang sangat penting dikuasi oleh setiap ATLET. Dengan karakteristik gerak serba cepat, kuat, luwes namun tetap bertenaga, pembinaan kelenturan tubuh harus mendapat perhatian khusus.Latihan fleksibilitas harus mendapat porsi yang cukup. Orang yang kurang lentur rentan mengalami cedera di bagian otot dan daerah persendian. Di samping itu, gerakannya cenderung kaku sehingga banyak menggunakan energi, kurang harmonis, kurang rileks, dan tidak efisien.
Latihan-latihan peregangan dengan kualitas gerakan yang benar memacu komponen otot dan persendian mengalami peregangan yang optimal. Oleh karena itu, fleksibilitas ini harus dilatih dengan tekun dan sistematis.

Peningkatan Kondisi Fisik

· Peningkatan kemampuan fisik ditentukan (terutama) oleh latihan-latihan yang terarah. Disamping itu usia atlet dan  bakat baik itu organ tubuh atau pun otot, mungkin juga ke dua-duanya (organ dan otot).

· Peningkatan kemampuan fisik erat kaitannya dengan prinsip penyesuaian biologis/fisiologis.

Web Mencari Bentuk Latihan

Ditulis dalam Bela Diri. Tag: , . 1 Komentar »

Various Strenght Training

Video Clip Gulat/Wrestling

Ditulis dalam gulat. Tag: . 1 Komentar »

Latihan Plyometrik

PENDIDIKAN JASMANI

Pendidikan Jasmani: Tidak Menanam, Tidak Menuai
Update : 20-06-2007

Tahun 2005 bisa dikatakan sebagai tahun paling kelabu bagi olahraga Indonesia. Negeri berpenduduk terbanyak di Asia Tenggara ini untuk pertama kalinya dalam sejarah hanya berada di urutan kelima dalam daftar perolehan medali SEA Games.

Gagal sebagai juara umum SEA Games mungkin bisa diterima. Sebagaimana yang sudah-sudah, tuan rumah SEA Games memang selalu berusaha keras agar negeri mereka tampil sebagai juara umum.

Cabang-cabang yang memungkinkan tuan rumah memanen medali ”dipaksakan” untuk digelar. Indonesia juga melakukannya saat menjadi tuan rumah SEA Games 1997.

Demikian pula Filipina yang merupakan tuan rumah SEA Games 2005. Buktinya negeri bekas jajahan Spanyol ini menggelar cabang yang hanya dikuasai mereka, antara lain dansa dan bela diri arnis.

Akan tetapi, gagal menjadi juara umum seharusnya tidak lantas membuat Indonesia terpuruk di urutan kelima, di bawah Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Karena hal itu sungguh-sungguh terjadi, tentu sangat wajar jika 200 juta lebih penduduk Indonesia bertanya-tanya, apa yang salah dengan olahraga Indonesia?

Petinggi pengurus olahraga di Tanah Air kini sibuk menggelar pertemuan, seminar, rapat perencanaan, dan sebagainya, yang kata mereka, sebagai langkah awal memperbaiki olahraga Indonesia.

Rakyat jelata hanya bisa berharap semoga semua kesibukan tersebut tidak berujung pada kesimpulan konyol bahwa olahraga Indonesia terpuruk karena lawan lebih siap. Konyol karena bukankah tugas para petinggi itu membuat olahraga Indonesia siap?

Hasil memalukan pada SEA Games 2005 jelas merupakan muara dari berbagai ketidakberesan yang telah berlangsung begitu lama dalam dunia olahraga di Indonesia. Satu di antaranya adalah lemahnya pendidikan jasmani di tingkat SD dan SMP.

Walau pendidikan jasmani di sekolah bukanlah bertujuan menelurkan olahragawan prestasi, di lembaga itulah dibentuk dasar olahraga, yaitu pengajaran keterampilan gerak yang benar, motivasi berolahraga yang tinggi, dan identifikasi bakat sedini mungkin.

Dibandingkan dengan, katakanlah, isu minimnya atlet Indonesia yang berlatih ke luar negeri, isu lemahnya pendidikan jasmani mungkin terkesan kurang seksi, kurang gagah.

Apa lagi sih yang harus dilakukan dengan pendidikan jasmani di SD atau di SMP? Bukankah lebih penting meningkatkan kemampuan bahasa Inggris siswa ketimbang mengurusi pendidikan jasmani?

Mantan Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Jakarta Taufik Yudi menganalogikan pentingnya pendidikan jasmani dengan perkembangan bayi. ”Tidak ada balita yang langsung memiliki kecerdasan cukup tinggi sehingga ia bisa bicara tanpa melalui tahap belajar tengkurap, merangkak, berdiri, dan berjalan lebih dahulu,” ujar Taufik.

Dalam kata lain, kemampuan gerak merupakan dasar bagi bentuk kecerdasan kognitif dan emosi. Hal ini sudah disadari sangat lama oleh umat manusia, yang dibuktikan dengan adanya kutipan bahasa Latin yang begitu terkenal: ”Mens sana in corpore sano”, ’dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa atau pikiran yang sehat’.

Sayang, Indonesia tampaknya mengabaikan arti penting pendidikan jasmani. Hal ini, menurut Yudi, bisa dilihat dari cara pendidikan jasmani digelar di Tanah Air.

”Ada guru yang tidak punya latar belakang pendidikan ilmu jasmani tiba-tiba saja memberikan pelajaran itu di sekolah,” ujar Taufik, yang sekarang menjadi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta.

Taufik juga menyebut sering terjadi salah pemahaman mengenai pendidikan jasmani di sekolah. Pendidikan jasmani di sekolah dasar seharusnya hanya mengenalkan gerakan dasar, seperti berlari, berjalan, melompat, dan melempar. Namun, banyak sekolah yang sudah mengajak siswa melakukan permainan dalam memberikan pendidikan jasmani.

Kondisi memprihatinkan pendidikan jasmani dapat dilihat dari apa yang terjadi di sekolah di Bandung.

Di Sekolah Dasar Negeri Cibeunying IV, Kabupaten Bandung, siswanya harus berbagi tempat dengan teman-teman mereka dari SDN Cibeunying II dan Cibeunying III. Seorang guru SD Cibeunying IV, Yuni Haryani, juga harus bekerja secara borongan. Pengajar siswa kelas 1 ini memberikan pelajaran Matematika, Membaca, hingga Olahraga.

Hal serupa dialami rekannya, Nanik Sugiarti, yang mengajar kelas II SD Cibeunying III. ”Di sini tidak ada yang khusus mengajar Olahraga. Semua diajar oleh guru kelas masing-masing,” tutur Yuni.

Tak adanya guru khusus pendidikan jasmani juga dirasakan Nurhayati Pangaribuan, Kepala Sekolah SD Negeri 060888 Medan. Ada 15 guru berstatus pegawai negeri sipil, termasuk dirinya, di sekolah ini. Dua guru lagi adalah tenaga honorer.

”Yang tidak ada ya guru Olahraga. Sudah lama sekolah ini tidak memiliki guru Olahraga. Jadi mata pelajaran itu diasuh guru kelas masing-masing. Untuk kelas IV sampai VI, kami menyediakan guru tersendiri. Dia bukan guru Olahraga, tetapi guru Agama. Sekolah ini sudah berdiri sejak tahun 1960-an, tetapi sejak saya jadi kepala sekolah beberapa tahun yang lalu, sekolah ini tidak punya guru Olahraga,” kata Nurhayati.

Nanik Sugiarti, guru kelas II SD Cibeunying III, menjelaskan, setiap minggu tiap kelas diberikan pelajaran Olahraga dua jam pelajaran atau setara dengan 60 menit. Jumlah jam ini dirasakan sangat minim.

Persoalan rasio antara guru dan murid serta minimnya jumlah jam pelajaran juga dirasakan sekolah di Surabaya. Pendidikan jasmani hanya diajarkan dalam satu pertemuan seminggu, biasanya 70-80 menit untuk SD. Sementara di SMP serta SMA 90 menit.

Waktu tersebut tentu akan tersita untuk ganti pakaian (kira-kira lima menit), pemanasan (10-15 menit), dan pendinginan (kira-kira 10-15 menit). Praktis pendidikan jasmani hanya berlangsung 35 menit sampai satu jam per minggu.

Ini belum membahas kualitas pengajaran yang bisa diberikan dalam waktu selama itu. Bandingkan dengan pelajaran akademik lain yang bisa 180 menit seminggu.

Akhirnya, pendidikan olahraga terkesan sebagai ajang pemantauan kebugaran siswa. ”Tak bisa diperpanjang karena waktunya tidak ada,” ujar guru SMAN 16 Surabaya, Yoyok Subagyo, yang juga merupakan wasit nasional voli lulusan Sekolah Guru Olahraga di Surabaya era 1970-an.

Selain praktik, biasanya dalam satu semester di SMAN 16 Surabaya disisipkan dua kali pelajaran teori, misalnya, pengenalan sistem dan tata cara pertandingan. Artinya, pelajaran teori hanya sebanyak dua kali dari sekitar 16-22 kali pertemuan dalam satu semester.

Dengan hanya maksimal dua jam per minggu, jelas tidak banyak siswa yang mampu menguasai secara benar gerakan dasar olahraga, seperti lari, lompat, dan lempar. Ketika akhirnya sang anak berniat memperdalam kemampuan olahraganya dengan bergabung pada sebuah klub, pelatih klub pun harus mulai dari memperbaiki gerakan dasar tadi.

”Contohnya untuk melompat. Hanya sebagian kecil atlet baru di klub yang menguasai cara melompat dengan benar. Padahal untuk menjadi atlet bola voli, kemampuan melompat yang baik itu salah satu syarat penting,” ujar pembina klub voli Tectona Bandung Dadi Saridji.

Dari sisi kondisi fisik, harus diakui postur para calon atlet saat ini lebih baik dibandingkan dengan 10-20 tahun lalu. Kesadaran orangtua akan pentingnya gizi dan pola hidup sehat menjadikan mereka relatif memiliki postur fisik yang lebih baik sehingga tak seharusnya kita kekurangan bibit atlet berbakat.

”Kelihatannya porsi pengajaran olahraga dasar di sekolah memang berkurang. Lebih banyak waktu dialokasikan untuk memahami olahraga permainan. Sebaiknya porsinya dibalik karena anak yang menguasai gerakan dasar dengan baik biasanya lebih mudah untuk dilatih dan berprestasi,” ujar Dadi.

Pilihan pengajaran olahraga pun banyak terkendala fasilitas di sekolah. “Semua harus sadar bahwa tanpa fasilitas yang memadai, pendidikan olahraga tidak akan memenuhi harapan. Seperti kami, mengajak anak-anak berenang pun tidak bisa setiap minggu karena terkait biaya,” tutur Kepala Sekolah SDN Tenggilis Mejoyo 1 Surabaya, Tatin.

SD yang diasuh Nurhayati Pangaribuan di Medan juga menemui kendala sarana fisik. Sekolah ini memiliki halaman sekolah yang luasnya hanya 20 meter persegi.

Tiga komponen utama mata pelajaran Olahraga yang selalu diajarkan sejak SD, yakni atletik, senam, dan olah raga permainan, juga tak lagi bisa ditemui pada banyak SD di Medan. Bagaimana mau belajar atletik jika tak punya tanah lapang? Bagaimana mau mengajar senam jika sekolah tak punya matras?

Lain lagi cerita Sutrisno, guru Olahraga yang juga Wakil Kepala Sekolah SMU Negeri 1 Medan. Sekolah itu punya lapangan basket yang bisa jadi lapangan futsal. Namun, jangan harap siswa sekolah itu bisa belajar dua komponen dasar mata pelajaran olahraga, atletik dan senam.

Sutrisno kesulitan jika harus mengajar atletik karena tak ada lapangan yang layak. Senam lantai memang diajarkan, tetapi tak ada matras sebagai perlengkapannya. Saat harus memberi pelajaran tentang senam lantai, Sutrisno terpaksa memakai sedikit tanah lapang yang ditumbuhi rumput di sudut sekolah.

Melihat kondisi pelaksanaan pendidikan jasmani yang begitu menyedihkan di sekolah rasanya menjadi terlalu berlebihan kalau kita berharap menjadi bangsa yang besar di bidang olahraga. Pendidikan jasmani tak ubahnya benih dan kita tidak akan pernah menuai apa pun kalau kita tidak pernah menanamnya.

Sumber : www.kompas.co.id

Ditulis dalam Bela Diri. Tag: , , . Leave a Comment »

Plyometric Training Video